Speaker Masjidil Haram Mekah |
Pernahkah Anda sholat jum'at tapi gak dengar pembicaraan khatib? atau
Anda mendengarnya keras tapi tak jelas artikulasi bicaranya ? atau ada
gangguan-gangguan seperti dengung, kemresek dan lain-lain yang
mengganggu suara khatib ? Atau ketika shalat berjama'ah, suara imam tak
begitu terdengar ?
Masjid atau musholla sebagai media publik harusnya didukung oleh sistem pengeras suara yang cukup dan baik. Cukup dalam arti level suara dapat di dengar seluruh jama'ah. Sedangkan baik artinya artikulasi pembicaraan dapat terbaca. Jadi baik bukan soal bassnya atau trebelnya mantab seperti pada audio musik.Penguat suara yang dibutuhkan adalah penguat yang baik untuk rentang frekuensi suara vokal baik untuk adzan, iman atau pengajian.
Untuk memasang sistem penguat suara masjid yang baik tentu harus diplaning dengan baik. Perlu dibuat desain yang baik sesuai kondisi masjid dan musholla itu sendiri. Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan antara lain :
1. Luasnya atau areanya
Semakin luas semakin besar kebutuhan daya. Namun yang perlu diperhatikan adalah distribusi dayanya. Lebih baik menempatkan beberapa speaker dengan daya lebih kecil menyebar pada titik-titik tertentu dari pada speaker daya besar tapi hanya ditempatkan pada satu titik saja.
dealnya ruang sebesar 20 X 20 meter cukup dengan power skitar 100 watt. Nah daya sebesar itu kemudian bisa didistribusikan ke 4 titik sehingga masing-masing 25 watt speaker.
Untuk ruangan denga banyak sekat, misal satir bagian jama'ah pria dan wanita yang terbuat kayu/tembok permanen yang agak tinggi sehingga seakan membentuk blok tersendiri, maka harus di pasang speaker pada masing-masing blok itu.
2. Kondisi Akustik Ruangan
Nah ini faktor yang agak sulit. Karena tiap ruangan mempunyai kondisi akustik yang unik. Maka mau tidak mau point ke 2 ini hanya bisa optimal melalui beberapa ujicoba langsung di lapangan. Dalam point no.1 diatas disebutkan untuk mendistribusikan speaker pada beberapa titik dalam satu ruangan. namun cara penempatan tiap titik tersebut harus mempertimbangkan hal-hal berikut :
a. jangan terlalu dekat antara mikrofon dan speaker karena bisa feedback (dengung)
b. jangan saling berhadapan antara speaker dan mikrofon.
c. bila dengan terpaksa mikrofon dan speaker berhadapan usahakan bedakan tingginya. (idealnya speaker lebih tinggi diatas dedeg orang dewasa berdiri dan arahkan sudut speaker sedikit condong ke atas menjauhi arah mikrofon.
d. Bila perlu uji fasa yaitu mencoba menukar kutub kabel speaker kemudian test mana yang paling optimal. Biasanya ini sedikit membantu.
Masjid atau musholla sebagai media publik harusnya didukung oleh sistem pengeras suara yang cukup dan baik. Cukup dalam arti level suara dapat di dengar seluruh jama'ah. Sedangkan baik artinya artikulasi pembicaraan dapat terbaca. Jadi baik bukan soal bassnya atau trebelnya mantab seperti pada audio musik.Penguat suara yang dibutuhkan adalah penguat yang baik untuk rentang frekuensi suara vokal baik untuk adzan, iman atau pengajian.
Untuk memasang sistem penguat suara masjid yang baik tentu harus diplaning dengan baik. Perlu dibuat desain yang baik sesuai kondisi masjid dan musholla itu sendiri. Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan antara lain :
1. Luasnya atau areanya
Semakin luas semakin besar kebutuhan daya. Namun yang perlu diperhatikan adalah distribusi dayanya. Lebih baik menempatkan beberapa speaker dengan daya lebih kecil menyebar pada titik-titik tertentu dari pada speaker daya besar tapi hanya ditempatkan pada satu titik saja.
dealnya ruang sebesar 20 X 20 meter cukup dengan power skitar 100 watt. Nah daya sebesar itu kemudian bisa didistribusikan ke 4 titik sehingga masing-masing 25 watt speaker.
Untuk ruangan denga banyak sekat, misal satir bagian jama'ah pria dan wanita yang terbuat kayu/tembok permanen yang agak tinggi sehingga seakan membentuk blok tersendiri, maka harus di pasang speaker pada masing-masing blok itu.
2. Kondisi Akustik Ruangan
Nah ini faktor yang agak sulit. Karena tiap ruangan mempunyai kondisi akustik yang unik. Maka mau tidak mau point ke 2 ini hanya bisa optimal melalui beberapa ujicoba langsung di lapangan. Dalam point no.1 diatas disebutkan untuk mendistribusikan speaker pada beberapa titik dalam satu ruangan. namun cara penempatan tiap titik tersebut harus mempertimbangkan hal-hal berikut :
a. jangan terlalu dekat antara mikrofon dan speaker karena bisa feedback (dengung)
b. jangan saling berhadapan antara speaker dan mikrofon.
c. bila dengan terpaksa mikrofon dan speaker berhadapan usahakan bedakan tingginya. (idealnya speaker lebih tinggi diatas dedeg orang dewasa berdiri dan arahkan sudut speaker sedikit condong ke atas menjauhi arah mikrofon.
d. Bila perlu uji fasa yaitu mencoba menukar kutub kabel speaker kemudian test mana yang paling optimal. Biasanya ini sedikit membantu.
e. Ruangan yang tertutup yang sedikit ventilasi juga yang atapnya
tinggi dengan dinding tebal cenderung bergema, maka usahakan menempatkan
speaker serendah mungkin dekat dengan audien (pendengar) dengan arah
condong ke bawah.
gambaran umum pemasangan speaker indoor masjid/musholla |
Selain menempatkan speaker dalama ruangan juga menempatkan speaker yang berupa corong/horn pada menara. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
- semakin tinggi speaker corong akan semakin luas jangkauan namun jika terlalu tinggi maka di titik dekat masjid/musholla malah tidak terdengar jelas.
- arahkan corong sedikit ke bawah skitar kira-kira aja skitar 10 derajat dari bidang datar tapi jangan terlalu ke bawah.
- jangan arahkan corong pada bangunan yang akan memantulkan suara karena akan meredam kuat suara bahkan menjadikan terdengar kurang enak (memekakkan telinga)
4. Pertimbangan dari segi input Penguat suara
Yang utama dalam hal ini adalah input berupa mikrofon. Gunakan mikrofon yang responnya baik untuk nada-nada vokal manusia. Dan gunakan mikrofon uni-directional yaitu mikrofon yang peka dalam satu arah saja. Mikrofon seperti ini menggunakan enclosure (wadah) yang didesain sedemikian rupa agar hanya peka terhadap suara yang datangnya dari depan. Sedangkan suara dari arah lain dilemahkan. Hal ini penting untuk mengurangi efek feedback. Jika mempunyai dana lebih gunakan saja mikrofon jenis elektret, yaitu mikrofon yang menggunakan batu baterai. Mikrofon jenis ini mempunyai kepekaan yang sangat baik juga respon baik terhadap nada-nada vokal.
Sebenarnya yang paling ideal menggunakan mikrofon itu ya sedekat mungkin dengan mulut pembicara. Sebab jika terlalu jauh maka pengatur kepekaan (level) harus ditinggikan, namun jika terlalu tinggi justru akan menimbulkan feedback. Namun bisa jadi ini tidak memungkinkan seperti mikrofon pada pengimaman. Solusinya bisa menggunakan mikrofon kancing yang langsung disematkan pada badan imamnya, atau menempatkan mikrofon lebih dari satu yaitu untuk posisi imam berdiri, rukuk dan ketika sujud. Dalam penyetelannya harus mempertimbangkan hal-hal yang telah dijelaskan pada point no. 2 di atas.
audio mixer untuk mencampur dan mengatur sinyal beberapa mikrofon dan sumber audi lain seperti pemutar kaset |
Karena menggunakan input berupa mikrofon lebih dari satu dan bisa juga menggunakan input lain seperti pemutar kaset, maka idealnya menggunakan perangkat mixer sebelum diumpan ke penguat suara (amplifier). Jumlah chanel input mixer bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya mixer 8 chanel input sudah lebih dari cukup. Yaitu untuk 1 buah mikrofon adzan, 1 buah mikrofon khatib, 3 mikrofon pengimaman dan satu input buat pemutar kaset.
5. Pertimbangan Perangkat yang dibutuhkan
Sebenarnya tak masalah untuk tata suara masjid/musholla kecil menggunakan perangkat amplifier rakitan. Namun jika ingin hasil yang memuaskan gunakan perangkat yang memang terpercaya selama puluhan tahun seperti merk TOA. Di sini bukan berarti saya promosi merk TOA. Tapi sementara ini yang terbukti baik untuk tata suara seperti masjid-masjid agung di kota-kota besar. Memang harganya cukup tinggi tapi akan sebanding dengan kualitasnya.
Tapi...
Entah pakai TOA atau rakitan kita harus memperhatikan segi teknis dan spesifikasi setiap perangkat yang ada. Semuanya harus dperhitungkan kesesuaian (matching) tiap perangkat yang disambungkan. Jadi jangan lantas karena kita menggunakan merk TOA yang memang bagus tapi cara pasang speakernya tidak sesuai. Misal satu amplifier TOA dipasangi speaker begitu banyak tanpa mempertimbangkan daya dan kesesuaian impedansinya.
Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dan saling berkaitan yaitu Impedansi dan Power Output. Power output adalah daya maksimal speaker ketika full load (beban penuh). Power output dinyatakan dalam watt. Nah, kemampuan power output amplifier sangat bergantung kepada impedansinya. Semakin kecil impendansi output maka daya akan meningkat. Namun tetap ada batasnya. Jika impendansinya terlalu kecil sehingga outputnya terlalu besar maka amplifier bisa rusak.
a. Impedansi
Setiap Amplifier dibatasi oleh daya tertentu dengan impedansi tertentu.
* Misal Daya Output 200 Watt impedansi 8 ohm.ini berarti jika kita memasangkan SATU speaker berimpedansi 8 ohm maka daya output maksimal akan keluar 200 watt tanpa masalah.
* Atau bisa kita pasangkan dengan 2 buah speaker yang masing-masing berimpedansi 16 ohm secara secara parallel sehingga impedansi totalnya juga akan 8 ohm sehingga tak akan bermasalah.
* atau contoh lagi kita akan bisa memasang 4 buah speaker yang masing-masing berimpedansi 8 ohm secara kombinasi seri dan paralel
* JANGAN PASANG SPEAKER SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA IMPEDANSI TOTAL SPEAKER KURANG DARI IMPEDANSI AMPLIFIER SEPERTI CONTOH BERIKUT KARENA AKAN MERUSAK DAN MENGURANGI KESTABILAN AMPLIFIER:
*JUGA JANGAN MEMASANG SPEAKER SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA IMPEDANSI TOTAL SPEAKER LEBIH DARI IMPEDANSI AMPLIFIER SEPERTI CONTOH BERIKUT KARENA MESKI TAK MERUSAK AMPLIFIER TAPI DAYA YANG KELUAR AKAN JAUH BERKURANG DARI POWER OUTPUT AMPLIFIERNYA.
dan lain-lain contoh pemasangan. Disini saya tak akan menjelaskan panjang lebar prinsip impedansi. Silakan gogling sendiri.
INTINYA HARUS ADA KESESUAIAN IMPEDANSI AMPLIFIER DENGAN SPEAKER YANG DIPASANG. KOMBINASIKAN SPEAKER SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA IMPEDANSINYA BISA MATCHING DENGAN IMPENDANSI AMPLIFIER SEPERTI CONTOH-CONTOH DI ATAS.
Kadang ketika kita membeli amplifier jadi tak ada keterangan impedansinya. Maka asumsikan impedansinya standar 8 ohm atau 4 ohm. Begitu juga kalau kita membeli speaker maka usahakan cari informasi tentang impedansi berapa dan watt-nya berapa.
b. Output Power (Daya Amplifier)
Sesuaikan daya speaker dengan daya output amplifiernya. Jika
amplifiernya 200 watt maka jumlah daya seluruh speaker yang terpasang
juga harus mampu dibebani 200 watt. Jika kemampuan speaker secara
keseluruhan kurang dari 200 watt maka speaaker akan cepat rusak (putus
coilnya).
c. Khusus Permasalahan untuk Produk TOA
Di pasaran kebanyakan speaker 4 - 8 ohm. Kecuali untuk perangkat merek TOA agak berbeda. Secara singkat produk speaker TOA baik speaker column atau horn bisa dibedakan menjadi high impedance dan low impedance. high impedance sekitar beberapa kilo ohm . Sedangkan yang low impedance antara 3 - 16 ohm. Nilai pastinya bisa langsung dilihat pada parameter saat membeli.
Demikian pula untuk produk amplifier pada panel belakang ada konektor speakernya ada beberapa pilihan sesuai dengan impedansi speaker yang akan dipasangkan. Bisanya untuk perangkat high impedance dasambungkan ke konektor "Com - 100V". Lihat gambar di bawah ini :
Salah satu keuntungan menggunakan high impedance adalah kesederhanaan penyambungan dan tak perlu mikir pusing njlimetnya perhitungan impedansi kombinasi parallel dan seri speakernya seperti uraian di atas. Kita bisa menggunakan satu saluran kabel untuk disambungkan ke banyak speaker.
c. Khusus Permasalahan untuk Produk TOA
Di pasaran kebanyakan speaker 4 - 8 ohm. Kecuali untuk perangkat merek TOA agak berbeda. Secara singkat produk speaker TOA baik speaker column atau horn bisa dibedakan menjadi high impedance dan low impedance. high impedance sekitar beberapa kilo ohm . Sedangkan yang low impedance antara 3 - 16 ohm. Nilai pastinya bisa langsung dilihat pada parameter saat membeli.
Demikian pula untuk produk amplifier pada panel belakang ada konektor speakernya ada beberapa pilihan sesuai dengan impedansi speaker yang akan dipasangkan. Bisanya untuk perangkat high impedance dasambungkan ke konektor "Com - 100V". Lihat gambar di bawah ini :
konektor amplifier TOA yang ke speaker ada yang low impedance dan ada yang high impedance ("com - 100v) |
Salah satu keuntungan menggunakan high impedance adalah kesederhanaan penyambungan dan tak perlu mikir pusing njlimetnya perhitungan impedansi kombinasi parallel dan seri speakernya seperti uraian di atas. Kita bisa menggunakan satu saluran kabel untuk disambungkan ke banyak speaker.
Di sini kita hanya cukup menghitung output power amplifier VS output speakernya. Jadi misal kita menggunakan 2 speaker kolom yang masing2 20 watt dan speaker horn 2 kali masing-masing berdaya 25 watt maka totalnya adalah (2x20)+(2x25)= 90watt. Dengan total output power speaker segitu maka amplifier TOA berdaya 100 watt sudah mencukupinya. Kita juga tinggal menyambung semua speaker itu dalam satu kabel sehingga lebih mudah instalasinya Mudah bukan ?
Namun contoh seperti di atas bisa diterapkan jika semua perangkat speaker menggunakan high impdance produk TOA semua.
Ingat ! semua harus menggunakan produk TOA
semua karena memang sudah matching. Tidak boleh menyambung speaker low
impedance ke konektor high impedance amplifier TOA ("com - 100v") karena
bisa terjadi kerusakan atau minimal suara yang cacat atau
gangguan-gangguan lain.
(Bersambung ke Bag II, insya Allah bahas desain sederhana penerapan tata suara untuk mushola/masjid kecil)
KESIMPULAN PADA BAGIAN PERTAMA :
1. Untuk menghasilkan tata suara masjid/musholla yang baik perlu perencanaan yang baik pula.
2. Perencanaan yang baik harus dikembangkan berdasarkan kondisi real masjid dan mushola seperti luas, bentuk bangunan dan lain sebagainya.
3. Setiap masjid/ruang adalah unik dari segi akustik, sehingga harus dicoba berbagai alternatif pemasangan speaker untuk menghasilkan kualitas suara yang optimal dan minim gangguan.
4. Sesuaikan kriteria perangkat yang akan dipasang sesuai dengan kebutuhan berdasarkan perencanaan di atas. Jadi jangan sebaliknya memaksakan kondisi perangkat yang ada untuk memenuhi perencanaan di atas. gak akan optimal !
5. Ketahui parameter amplifier dan speaker yang dibeli terutama impedansi dan output powernya agar sesuai dengan rencana di atas.
6. Kebutuhan power output dan impendansi antara amplifier dan speaker harus sesuai (matching)
7. Menggunakan produk TOA meski mahal tapi instalasinya lebih mudah terlebih lagi jika menerapkan high impedance.
8. Bekerjalah seperti seorang PROFESIONAL, cermat, cerdas, inisiatif, dan inovatif dan bertanggungjawab.
9. Patuhi semua aturan dan prosedur keselamatan kerja terutama yang berkaitan dengan instalasi tegangan tinggi, baik dari input PLN atau dari konektor TOA high impedance karena tegangannya cukup tinggi yaitu sekitar 100 volt AC.
NB :
Penulis bukan ahli sound system tapi pernah punya pengalaman bertahun-tahun menangani sound system pada even-even di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta seperti Haul, Khatmil Qur'an dan lain-lain. Jadi apa yang saya tulis ini berdasarkan pengalaman pribadi. Jadi Silakan dikritik dan kasih saran seperlunya. Terima kasih !
sumber
(Bersambung ke Bag II, insya Allah bahas desain sederhana penerapan tata suara untuk mushola/masjid kecil)
KESIMPULAN PADA BAGIAN PERTAMA :
1. Untuk menghasilkan tata suara masjid/musholla yang baik perlu perencanaan yang baik pula.
2. Perencanaan yang baik harus dikembangkan berdasarkan kondisi real masjid dan mushola seperti luas, bentuk bangunan dan lain sebagainya.
3. Setiap masjid/ruang adalah unik dari segi akustik, sehingga harus dicoba berbagai alternatif pemasangan speaker untuk menghasilkan kualitas suara yang optimal dan minim gangguan.
4. Sesuaikan kriteria perangkat yang akan dipasang sesuai dengan kebutuhan berdasarkan perencanaan di atas. Jadi jangan sebaliknya memaksakan kondisi perangkat yang ada untuk memenuhi perencanaan di atas. gak akan optimal !
5. Ketahui parameter amplifier dan speaker yang dibeli terutama impedansi dan output powernya agar sesuai dengan rencana di atas.
6. Kebutuhan power output dan impendansi antara amplifier dan speaker harus sesuai (matching)
7. Menggunakan produk TOA meski mahal tapi instalasinya lebih mudah terlebih lagi jika menerapkan high impedance.
8. Bekerjalah seperti seorang PROFESIONAL, cermat, cerdas, inisiatif, dan inovatif dan bertanggungjawab.
9. Patuhi semua aturan dan prosedur keselamatan kerja terutama yang berkaitan dengan instalasi tegangan tinggi, baik dari input PLN atau dari konektor TOA high impedance karena tegangannya cukup tinggi yaitu sekitar 100 volt AC.
NB :
Penulis bukan ahli sound system tapi pernah punya pengalaman bertahun-tahun menangani sound system pada even-even di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta seperti Haul, Khatmil Qur'an dan lain-lain. Jadi apa yang saya tulis ini berdasarkan pengalaman pribadi. Jadi Silakan dikritik dan kasih saran seperlunya. Terima kasih !
sumber
Ok bang terimakasih penjelasannya...
ReplyDeleteJustru ituh di musholah
Tempatku..ini yg lgi
Masalah so'al sepeker...👍👍
Jazakullah khairan katsiron
ReplyDeleteJadi kalau 4 speaker horn yang d,pakai cara pasang gimana seri paralel
ReplyDeleteJadi kalau 4 speaker horn yang d,pakai cara pasang gimana seri paralel
ReplyDeleteSangat membantu dan berguna artikelnya om... terimakasih
ReplyDeletemakasih infonya pak, sagat membantu
ReplyDeleteTerima kasih informasinya pak....
ReplyDeleteTerimakasih info nya..ada satu pertanyaan bang,untuk penempatan 4 horn di atas mesjid sebaiknya di satu titik atau di pisah misalkn di tiap penjuru ..
ReplyDeleteBermanfaat sekali
ReplyDeleteSangat membantu untuk referensi aq di masjid
ReplyDelete